Monday, 2 November 2015

MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL

UPAYA MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA
MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL
PADA SISWA KELAS VIII-3 SMP NEGERI 280 JAKARTA 


Abstrak

Untuk mendapatkan file BAB 1-BAB5 hub 0856 42 444 991


       Hasil belajar matematika siswaSMP Negeri 280 Jakarta masih rendah dibandingkan dengan mata pelajaran yang lainnya. Rendahnya hasil belajar matematika siswa SMP Negeri 280 Jakarta disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya adalah : 1) sebagian siswa masih mengganggap mata pelajaran matematika adalah pelajaran yang sulit, manakutkan dan membosankan; 2) siswa kurang aktif dan kreatif dalam pembelajaran matematika; 3) guru kurang bervariasi dalam menggunakan pendekatan pembelajaran matematika dan cenderung menggunakan pendekatan konvensional. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kontekstual. 
         Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 280 Jakarta, dilaksanakan pada tanggal 20 September sampai 12 Oktober 2004. Penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) . Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual pada materi Teorema Pythagoras melalui pendekatan konteks bangun kubus dan balok, telah memberikan kenaikan hasil belajar matematika yang diperoleh siswa. Hal itu ditunjukkan nilai rata-rata pada siklus I nilai rata-rata 6,29 dengan ketuntasan 60,53%, pada silus II nilai rata-rata 6,74 dengan ketuntasan 71,50%, dan pada siklus III nilai rata-rata 7,47 dengan ketuntasan belajar 89,47%. 
 Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara nyata. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami sendiri apa yang dipelajari, maka pendekatan kontekstual sebagai salah satu pendekatan yang mampu meningkatkan hasil belajar siswa dan dapat menciptakan pembelajaran aktif inovatif kreatif dan menyenangkan gembira dan berbobot( PAIKEM-GEMBROT).

A.   Latar Belakang Masalah

      Kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan semakin kelihatan nyata. Dengan kesadaran ini, pemerintah dan masyarakat, terutama pendidik, mencurahkan sebagian besar tenaga, dana dan pikirannya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Misalnya melakukan perubahan kurikulum, perubahan teknik pengajaran dan penyelenggaraan kerja sama antara lembaga pendidikan dengan lembaga lain (Kadir dan Ma’sum, 1982, 1991-1992). Untuk meningkatkan mutu pendidikan, pemerintah telah melakukan berbagai upaya antara lain, (1) meningkatkan kualitas guru SMP/MTs dari lulusan D1 dan D2 menjadi lulusan S1 penyetaraan, (2) mendirikan sekolah-sekolah baru, dan (3) meningkatkan perbaikan proses belajar mengajar dan hasil belajar melalui pelatihan-pelatihan guru SD, SMP, dan SMA.
     Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), materi Teorema Pythagoras yang berbunyi: “Kuadrat ukuran hipotenusa dari segitiga siku-siku sama dengan jumlah kuadrat ukuran sisi siku-sikunya”, merupakan materi yang diberikan pada siswa SMP/MTs kelas VIII. Seorang guru harus dapat memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswanya sehingga mudah dipahami. 
      Mengajarkan matematika merupakan suatu kegiatan pembelajaran sedemikian sehingga siswa belajar untuk mendapatkan kemampuan dan ketrampilan tentang matematika. Kemampuan dan ketrampilan tersebut ditandai dengan adanya interaksi yang positif antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, yang sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan (Hudaya, 1988:122). Namun dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran khususnya yang berhubungan dengan matematika, ternyata masih banyak mengalami hambatan-hambatan baik yang dialami siswa maupun guru. Salah satu hambatan yang terjadi adalah kesulitan dalam memahami konsep-konsep matematika, hal ini disebabkan kurang tepat pendekatan yang dipergunakan serta kurang optimal dalam pengunaan alat peraga yang ada.
      Seperti yang terjadi di SMP Negeri 280 Jakarta, didapatkan latar belakang siswa sangat bervariasi dalam motivasi belajarnya. Mereka rata-rata dalam belajar tanpa dibekali keinginan untuk memahami konsep-konsep yang diajarkan oleh guru. Mereka kurang dalam mengkaitkan materi satu dengan yang lain. Sehingga yang terjadi mereka kebingungan dan selanjutnya dalam menyelesiakan soal-soal tidak sesuai dengan prosedur.

DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi. 2002, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. ED Rev. Jakarta :
                                           Bumu Aksara.
-------------------------- . 2006, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : Bumi Aksara
Wardani Sri, 2005. Pembelajaran Matematika Kontekstual Bahan Ajar Diklat di PPPG Matematika Yogyakarta: PPG Matematika
Adiawan, M, Cholik dan Sugiono. 2003. Matematika Untuk SLTP Kelas 2. Jakarta: Erlangga. 
Djumanta, Wahyudi. 1994. Matematika Untuk SLTP Kelas II. Jakarta: Multi Trust. 
Hudoyo. 1988,  Strategi Mengajar Belajar Matematika, Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. 
Soedjadi. 1985,  Matematika 2 Petunjuk Guru SLTP Kelas 2, Jakarta : Balai Pustaka.
Nurhadi dan Sentuk, Agus, Gerrad. 2003. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya Dalam KBK. Malang: UM Press. 
Ruseffendi, E.T. 1980. Pengajaran Matematika Modern Untuk Orang Tua Murid, Guru dan SPG. Bandung: Tarsito. 
Soejono. 1984. Diagnosis Kesulitan Belajar dan Pengajaran Remedial Matematika. Jakarta: Depdikbud.
Sudrajat Ahmad, Tujuh Komponen Dalam CTL: http://abaryans.wordpres.com. diakses tanggal 20 September 2007.
Model Pembelajaran Kontekstual (http://www.google.co.id/d&q=Pendekatan+Kontekstual) diakses pada tanggal         20 Septembe 2007

READ MORE - MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL

MENINGKATKAN KOMPETENSI WRITING DI KELAS METODE MIND MAPPING

IMPLEMENTASI METODE MIND MAPPING
UNTUK MENINGKATKAN
KOMPETENSI WRITING DI KELAS VII D
SMPN 15 YOGYAKARTA


ABSTRAK

Untuk mendapatkan File BAB1 - BAB 5 Hub 0856 42 444 991

Di SMP Negeri 15 Yogyakarta banyak siswa kelas VII yang merasa kesulitan dalam menulis teks monolog berbentuk deskriptif. Ini disebabkan karena sedikitnya kosakata yang dihafal dan dimengerti maknanya.serta kurangnya penguasaan tata bahasa atau grammar. Hal ini terjadi karena kebanyakan siswa kurang berminat terhadap mata pelajaran Bahasa Inggris, karena menganggap Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran yang sulit dan tidak menarik. Hal ini dibuktikan dengan hasil angket penelitian, yang menunjukkan perbedaan hasil, sebelum dan sesudah tindakan dilakukan. Karena itulah peneliti mencoba metode mind mapping untuk mengatasinya. Metode ini cukup menarik, karena menggunakan gambar-gambar hasil kreasi siswa, yang dapat diwarnai dan dihiasi sekehendak siswa serta dapat memunculkan ide dalam menulis.
Hasil pengamatan selama penelitian, menunjukkan bahwa siswa nampak antusias begitu metode mind mapping diperkenalkan hingga diterapkan untuk menulis. Waktu mengerjakan tugaspun, baik tugas kelompok maupun individu, semua dapat mengumpulkan tugas. Hasil ulangan siklus 1, ada 4 siswa yang belum dapat mencapai KKM. Sedang pada siklus 2, tinggal 2 siswa yang belum mencapai KKM     Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti menyarankan agar guru Bahasa Inggris SMP atau SMA mencoba menggunakan metode mind mapping untuk pembelajaran aspek writing maupun aspek-aspek pembelajaran yang lain. Peneliti percaya, kreatifitas siswa yang luar biasa akan terlihat pada hasil atau gambar  mind mappingnya. Selain dapat menumbuhkan kreatifitas dan menarik, metode ini juga memuat berbagai metode dan dapat memunculkan ide. 

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Mata pelajaran Bahasa Inggris mempunyai karakteristik yang berbeda dengan mata pelajaran lain. Perbedaan ini terletak pada fungsi bahasa sebagai alat komunikasi. Selain diperlukan penguasaan kosa kata dan tata bahasa, juga diperlukan keterampilan dalam mengaplikasikannya dalam kegiatan komunikasi, baik lesan maupun tulis (Depdiknas, 2006:2). Pada pembelajaran kompetensi atau aspek writing, yang tujuan akhirnya adalah memproduk atau menghasilkan tulisan atau teks baik fungsional maupun monolog berdasarkan genre atau jenis teks, diharapkan siswa dapat memahami ciri-ciri dari suatu teks, dan dapat mengekspresikannya dengan kosa kata dan tata bahasa yang benar.
Di SMP Negeri 15 Yogyakarta, banyak siswa khususnya kelas VII yang merasa kesulitan dalam mengikuti pelajaran Bahasa Inggris khususnya pada aspek writing. Sebagai contoh, pada waktu diberi tugas menulis teks monolog berbentuk descriptive yang sudah ditentukan tema atau judulnya, kebanyakan siswa tidak segera melaksanakan, bahkan malah ditinggal ngobrol dengan teman di dekatnya. Nampak tidak serius dan malas mengerjakannya. Waktu diperingatkan dan ditanya kenapa tidak segera dikerjakan, jawaban mereka : “Sebentar ...”, “Nanti dulu, bu,”, “Sulit, bu,”, “Buat PR aja, bu” ...dan seterusnya yang intinya ingin menghindari tugas itu. Padahal langkah-langkah menulis descriptive sudah peneliti berikan, seperti pola kalimat simple present tense, contoh-contoh cara membuat kalimatnya, menentukan kosa kata yang akan digunakan, yang berkaitan dengan tema yang sedang dipelajari serta generic structurenya juga sudah diberikan. Contoh descriptive text pun sudah diberikan dalam pembelajaran aspek reading. 


DAFTAR PUSTAKA


Agustien, Helena IR. (2006) Kurikulum Bahasa Inggris SMP 2006 . Yogyakarta : 
Jogja English Teachers Association.

BSNP. (2006). SK dan KD Bahasa Inggris – SMP, dilengkapi : SKL. Jakarta : BSNP.

Depdiknas. (2006). Panduan Pengembangan Silabus Mata Pelajaran BAHASA                     
INGGRIS SMP.  Jakarta : Depdiknas Dirjen Manajemen Dikdasmen Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama

Depdiknas. (2006). Panduan Pengembangan RPP Mata Pelajaran BAHASA INGGRIS    
SMP . Jakarta : Depdiknas Dirjen Menejemen Dikdasmen Direktorat Pembinaan SMP.

Depdiknas. (2004) Materi Pelatihan Terintegrasi BAHASA INGGRIS Buku 1. Jakarta : 
Depdiknas Dirjen Dikdasmen Direktorat Pendidikan Lamjutan Pertama.

Depdiknas. (2007)  Buku Saku KTSP – SMP. Jakarta : Depdiknas Dirjen Menejemen 
Dikdasmen Direktorat Pembinaan SMP.

Endang K Haris dkk. (1997). English Students Workshop – SLTP Class 1. Bandung : 
PT Remaja Rosda Karya.

http : // www.duniaguru.com/index.php  Hernowo (2007) ”Brain-Based Writing”

http : //www.film pendek.org/Category-29/463-Peta-Pikiran-Mind-Mapping,html

http://en.wikipedia.org/wiki/Mind_map

Indrotomo dkk. (2004) English On Sky 1 for Junior High School Students. Jakarta : 
Erlangga.

Joko Siswanto dkk. (2005) Let’s Talk Grade VII  for Junior High School (SMP / MTs)
Bandung : Pakar Raya.

Kasihani, KE Suyanto dkk. (2005) English In Context 1- untuk SMP Kelas !. Jakarta : 
Bumi Aksara.

Logis. (   ) Buku Ajar Bahasa Inggris Kelas IX Semester 1. Solo : Pustaka Aditama.

Neuroscience Super Learning. (2006) Neuroscience Super Learning Progam BAHASA 
INGGRIS Tahap 1. Yogyakarta : Pelatihan Peningkatan Mutu dan Profeionalisme guru Bahasa Inggris DIY.

Syamsi Kastam. (2006/2007). Penyusunan Proposal dan Laporan PTK. FBS UNY.

Singgih St (1998). Rangkumam Evaluasi Proses dan Hasil Belajar Mengajar.   Yogyakarta : Penataran Guru SLTP se DIY 12 Desember 1998

READ MORE - MENINGKATKAN KOMPETENSI WRITING DI KELAS METODE MIND MAPPING

MENGUNGKAPKAN MONOLOG DESCRIPTIVE LISAN SEDERHANA

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENGUNGKAPKAN
MONOLOG DESCRIPTIVE LISAN SEDERHANA
YANG BERTERIMA SISWA KELAS VIIA SMP NEGERI 2 JABON
MENGGUNAKAN SISTIM ICARE


ABSTRAK

Untuk Mendapatkan File BAB1-BAB5 Hubungi 0856 42 444 991


Hartoyo, 2006. Meningkatkan Keterampilan Mengungkapkan Monolog Descriptive Lisan Sederhana yang Berterima Siswa Kelas VIIA SMP Negeri 2 Jabon menggunakan Sistim ICARE.

Kata-kata kunci : Monolog Descriptive Lisan Sederhana yang Berterima, Sistim      ICARE 

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini merupakan suatu upaya untuk meningkatkan keterampilan mengungkapkan monolog Descriptive sederhana yang berterima (literary) bagi siswa kelas VIIA di SMP Negeri 2 Jabon Kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini sebagai jawaban dari kesulitan guru bahasa Inggris ketika membelajarkan siswa pada siklus lisan. Pelaksanaan (PTK) ini menggunakan tiga siklus dengan sistim ICARE yang melalui lima tahapan yaitu, Introduce (Kenalkan), Connect (Hubungkan), Apply (Terapkan), Reflect (Refleksikan) dan Extend (Perluaslah) pada bahasan Personal Descriptive (Diskripsi Orang) yang terdiri dari sub topik: (1) deskripsi wajah dengan memperkenalkan Possessive Pronoun, (Kata Ganti Milik) “his dan her”, (2) deskripsi postur tubuh dengan mengkaitkan Pronoun as Subject, (Kata Ganti Subyek) “He dan She” dan kata kerja “wears” yang diikuti dengan kata benda yang merujuk pada pakaian (clothes), (3) melaksanakan penilaian individu lanjutan dan melakukan kegiatan remediasi dengan tutor sebaya. Agar pembelajaran bermakna dan menarik bagi siswa, maka pada bahasan Personal Description dikemas untuk mendiskripsikan orang-orang terkenal dengan kriteria penilaian meliputi permahaman kosa kata, pengucapan, kelancaran dan ketepatan menggunakan struktur kalimat. 
Hasil analisis data yang diperoleh dari hasil pengamatan dan angket siswa secara kualitatif dan secara kuantitaif diperoleh dari dokumen penilaian proses pembelajaran dan secara individu menunjukkan bahwa dengan menggunakan sistim ICARE, dapat meningkatkan keterampilan siswa mengungkapkan monolog descriptive lisan sederhana yang berterima terdapat peningkatan sebagai berikut:      (1) meningkatnya keterampilan siswa mengungkapkan monolog descriptive sederhana, (2) meningkatnya kemampuan siswa didalam menggunakan bahasa Inggris lisan yang beterima dengan pengucapan yang relatif tepat, pada umumnya lancar dan menggunakan struktur kalimat yang tepat, (3) meningkatnya keberanian siswa dalam mengungkapkan monolog descriptive sederhana,

DAFTAR PUSTAKA


Azies,FS & Alwasilah CA. 1996. Penagajaran Bahasa Komunikatif Teori dan    
                 Praktik. Bandung, Remaja Rosdakarya

Decentralized Based Education (DBE),2006. Integrasi Kecakapan Hidup dalam Pembelajaran. USAID Indonesia.

Dirjendikdasmen. 2005. Landasan Filosofi Teoritis Pendidikan Bahasa Inggris
                  Jakarta.

Mills,GE,2000. Action Research A Guide For The Teacher Researcher. Ohio, Shoutern Oregon University.

Permen 22. 2006. Standar Isi Mata Pelajaran Bahasa Inggris. Jakarta.

Puskur. 2003. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Inggris SMP. Jakarta.

Sudjana,s. 2001. Metoda dan Teknik Pembelajaran Partisipatif. Bandung. Falah 
                   Production.

Suranto, Basowi, Sukidin,2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Insan Cendekia.

Surya,M. 2003. Percikan Perjuangan Guru. Semarang, Aneka Ilmu.
Suryadi,A, 1983. Membuat Siswa Aktif Belajar.Bandung, Binacipta.

READ MORE - MENGUNGKAPKAN MONOLOG DESCRIPTIVE LISAN SEDERHANA
Monday, 7 September 2015

Supervisi Guru dalam Mengembangkan Evaluasi Pembelajaran Siswa

PELAKSANAAN SUPERVISI KELOMPOK UNTUK GURU DALAM MENGEMBANGKAN EVALUASI PEMBELAJARAN SISWA
DI GUGUS II RA KARTINI UPTD DIKPORA KECAMATAN BANJARSARI SURAKARTA


ABSTRAK 

Untuk mendapatkan File dari BAB 1-5 Hubungi 0856 42 444 991


Tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut: (1) Deskripsi langkah-langkah supervisi kelompok untuk guru dalam mengembangkan evaluasi pembelajaran siswa di Gugus II RA Kartini UPTD Dikpora Kecamatan Banjarsari Surakarta; (2) Deskripsi besarnya peningkatan kemampuan guru di Gugus II RA Kartini Kecamatan Banjarsari Surakarta dalam mengembangkan program evaluasi pembelajaran siswa.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan sekolah, yang dilaksanakan untuk memperbaiki kompetensi guru dalam mengembangkan perangkat evaluasi pembelajaran. Penelitian dilaksanakan di Gugus II RA Kartini UPTD Dikpora Kecamatan Banjarsari Surakarta, pada semester I tahun pelajaran 2012/2013. Pendekatan penelitian adalah pendekatan kualitatif, yaitu menguraikan fakta dan hubungan antar fakta penelitian secara tekstual sehingga mudah dipahami pembaca secara umum.
Berdasarkan atas hasil penbelitian tindakan sekolah yang dilakuakn, dapat dibuat kesimpulan sebagai berikut: (1) Pelaksanaan supervisi dengan teknik kelompok untuk meningkatkan kemampuan guru mengembangkan evaluasi pembelajaran dilakukan dengan tiga tahapan utama, yaitu tahapan (a) Penanaman konsep evaluasi pembelajaran dan indikator pengukuran kualitas evaluasi pembelajaran. Hal ini diselenggarakan pada pertemuan pra observasi; (b) Pelatihan dan pengukuran evaluasi pembelajaran. Hal ini diselenggarakan pada pertemuan observasi; (c) Evaluasi dan problem solving permasalahan dalam pengembangan evaluasi pembelajaran guru; (2) Terjadi peningkatan kemampuan guru mengembangkan perangkat evaluasi pembelajaran yang sesuai dengan konsep-konsep di dunia kependidikan


DAFTAR PUSTAKA



Alwasilah, et al. (1996). Glossary of educational Assessment Term. Jakarta:Ministry of Education and Culture.
Arikunto, S & Jabar. 2004. Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Calongesi, J.S. 1995. Merancang Tes untuk Menilai Prestasi Siswa. Bandung : ITB
Kumano, Y. 2001. Authentic Assessment and Portfolio Assessment-Its Theory and Practice. Japan: Shizuoka University.
Lehmann, H. (1990). The Systems Approach to Education. Special Presentation Conveyed in The International Seminar on Educational Innovation and Technology Manila. Innotech Publications-Vol 20 No. 05.
Stiggins, R.J. (1994). Student-Centered Classroom Assessment. New York : Macmillan College Publishing Company
Tayibnapis, F.Y. (2000). Evaluasi Program. Jakarta: Rineka Cipta
Zainul dan Nasution. (2001). Penilaian Hasil belajar. Jakarta: Dirjen Dikti. Share this:
Umam, Khaerul. 2010. Perilaku Organisasi. Bandung: Pustaka Setia
Yusron Dahlan. 2009. Faktor–Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas.http://dahlanforum.wordpress.com/2009/06/27/faktor-faktor-yang-dapat-mempengaruhi-produktivitas/. Diakses pada 25 Juli 2009
Soripada. 2007. Konsep Sekolah Model dan Intrumen Verifikasi Sekolah Model SMA. www.psb-psma.org diakses pada 25 Juli 2009.
Blumberg, Hansen. 1974. The Human Side Of Relationships Between Supervisors And Teachers To Understand Their Interactions. Human Resource Journal Vol 11. January, 1974
Vincent Gaspersz. 2000. Manajemen Produktivitas Total. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Kusnan. 2009. Urgensi Supervisi Akademik Bagi Dosen Di Institusi Pendidikan Tinggi. http://pendidikantinggi.hostei.com/produk/1-kusnan.pdf
Igneel. 2009. Supervisi Pendidikan. http://dikot.blogspot.com/2009/11/supervisi-pendidikan.html. Diakses pada 25 Juli 2009
Sahertian, Piet A. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan : Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta, 2000.
Syaiful Sagala. 2010. Supervisi Pembelajaran dalam Profesi Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Ngalim Purwanto. 2009. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya
H.A. Syamsudin Makmun. 2005. Psikologi Kependidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya
Suharsimi Arikunto. 1997. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
Budiyono. 2007. Motede Statistik untuk Penelitian. Surakarta: Universitas Sebelas Maret
Sudjana. 2002. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito
Herman R. Soetisna. 2007. Pengukuran Produktivitas. Bandung: Laboratorium PSK&E TI-ITB
Komarudin. 2004. Manajemen Pengawasan Kualitas Terpadu. Jakarta: Rajawali,
Gomes, Faustino Cardoso. 2002. Manajemen Sumberdaya Manusia. Yogyakarta: Andi offset.
Puslitjaknov, 2008. MetodePenelitian Pengembangan. Jakarta: Depdiknas
Sinungan, Muchdarsyah. 2003. Produktivitas, Apa dan Bagaimana. Jakarta: Bumi Aksara.
H.A.R Tilaar. 1999. ParadigmaBaru Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta
Bogdan, R..C. & Biklen, S.K. 1982. Qualitative Research for Education. Boston:Allyn & Bacon Inc.
Danim, Sudarwan. 2002. Inovasi Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.
Danim, Sudarwan. 2010. Kepemimpinan Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Depdiknas. 2001. Kurikulum Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas.
Dediknas. 2003. Undang-Undang R I Nomor 20 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Citra Umbara.
Supriadi, D. 2000. Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. Yogyakarta: Adicita.
Depdiknas. 2004. Pola Pembinaan Sistem Pendidikan Tenaga Kependidikan PGSD. Jakarta: Depdiknas.
Depdiknas. 2005. Undang-Undang RI Nomor 14 Tentang Guru Dan Dosen. Jakarta: Depdiknas.
Depdiknas. 2006. Standar Kompetensi Guru Kelas SD/MI Lulusan S 1 PGSD. Jakarta: Depdiknas.
Depdiknas.2008. StanPembangunan Pendidkan Nasional. Jakarta: Depdiknas.
Goetz, J.P. & Comte, LMD. 1984. Ethnography and Qualitative Design And Educational Research. New York: Academy Press Inc.
Hasan, S.H. 2004. Kurikulum dan Tujuan Pendidikan. Bandung: Pasca Sarjana UPI.
Hatten, K.J. & Rosenthal, S.R. 2001. Reaching for the Knowledge Edge. New York: Amrican Management Association.
Manisera, Marica., Dusseldrp, E., and Kooij, A.J. Van. 2005. Component Structure of Job Satisfaction Based on Herzberg’s Theory. Italy: Leiden University
Slade, L.A. and Rush, M. 1991.Achievement Motivation and Dynamics of Task Difficulty Choices. Journal of Personality and Society Psychology Vol 6 No 1, 165-172.

Sukmadinata, Nana Saodih,2009. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya

Williams, J.K. 2003. Maslow’s Hierarchy of Needs and Alderfer’s ERG Theory. London: SLC

READ MORE - Supervisi Guru dalam Mengembangkan Evaluasi Pembelajaran Siswa
Sunday, 6 September 2015

Meningkatkan Motivasi Kerja Melalui Supervisi Akademik pada Guru

UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI KERJA
MELALUI SUPERVISI AKADEMIK
ADA GURU SD NEGERI  II JATISRONO WONOGIRI  TAHUN 2010


ABSTRAK 

Untuk Mendapatkan File lengkap dari BAB1-5 Hubungi 0856 42 444 991


Penelitian dilatarbelakangi oleh kondisi yang berupa: (a) Terdapat cukup banyak guru SD Negeri II Jatisrono (25%) yang memiliki motivasi kerja yang kurang, diukur dari: (1) Kesenangan guru dalam melakukan pekerjaan, (2) Antusias kerja guru dalam mengembangkan dan melaksanakan program pendidikan maupun dalam melaksanakan tugas-tugas pembelajaran dan tugas lainnya; (3) Kesesuaiaian pekerjaan guru terhadap standar kerja, (4) Semangat juang guru dalam mencapai tujuan pendidikan di sekolah, (5) Konsistensi kerja guru ketika tanpa pengawasan, dan (6) Ekspresi kebahagiaan guru ketika menyelesaikan tugas dan komitmen pendidikan di sekolah; (b) Munculnya dampak buruk yang berupa kurangnya keberhasilan tujuan pendidikan di sekolah.
Tujaun dari pelaksanaan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Langkah-langkah pelaksanaan supervisi akademis oleh kepala sekolah kepada guru untuk meningkatkan motivasi kerja guru di SD Negeri II Jatisrono, dan (2) Besarnya peningkatan motivasi kerja guru setelah pelaksanaan supervisi akademis dikembangkan oleh kepala sekolah.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan sekolah yang dianalisis dengan pendekatan kualitatif. Penelitian dilaksanakan di SD Negeri II Jatisrono pada semester gasal tahun pelajaran 2011/2012 selama 5 bulan.
Hasil penelitian yang diperoleh adalah: Pelaksanaan supervisi akademik dalam rangka meningkatkan motivasi kerja guru dilakukan dengan: (1) Solusi atas permasalahan guru dalam menyelenggarakan proses pembelajaran maupun dalam menyelesaikan administrasi pembelajaran. Permasalahan yang dialami guru dianggap sebagai factor yang menghambat munculnya motivasi kerja yang tinggi sehingga harus diselesaikan terlebih dahulu; (2) Pemberian motivasi secara langsung, yang dilakukan dengan (a) Menunjukkan fakta-fakta positif yang telah dicapai guru; (b) Memberikan Tantangan untuk Standar Keunggulan yang Tinggi; (c) Memberikan harapan-harapan untuk promosi kenaikan pangkat guru; (d) Menunjukkan skor pencapaian kerja guru; (e) Menyampaikan sanksi yang mungkin diterapkan bagi guru; (f) Menghadirkan pengawas sekolah dan kepala dinas pendidikan setempat; (g) Menciptakan suasana akrab; (h) Membuat bersama instrument observasi dan daftar sanksi; (i) Menunjukkan hasil observasi dan diskusi terbuka; (j) Memberikan penghargaan secara langsung atas prestasi guru; (3) Pelaksanaan supervisi akademik terbukti mampu meningkatkan motivasi kerja guru.

DAFTAR PUSTAKA


Umam, Khaerul. 2010. Perilaku Organisasi. Bandung: Pustaka Setia
Yusron Dahlan. 2009. Faktor–Faktor yang Mempengaruhi Motivasi.http://dahlanforum.wordpress.com/2009/06/27/faktor-faktor-yang-dapat-mempengaruhi-Motivasi/. Diakses pada 25 Juli 2009
Soripada. 2007. Konsep Sekolah Model dan Intrumen Verifikasi Sekolah Model SMA. www.psb-psma.org diakses pada 25 Juli 2009.
Blumberg, Hansen. 1974. The Human Side Of Relationships Between Supervisors And Teachers To Understand Their Interactions. Human Resource Journal Vol 11. January, 1974
Vincent Gaspersz. 2000. Manajemen Motivasi Total. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Kusnan. 2009. Urgensi Supervisi Akademik Bagi Dosen Di Institusi Pendidikan Tinggi. http://pendidikantinggi.hostei.com/produk/1-kusnan.pdf
Igneel. 2009. Supervisi Pendidikan. http://dikot.blogspot.com/2009/11/supervisi-pendidikan.html. Diakses pada 25 Juli 2009
Sahertian, Piet A. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan : Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta, 2000.
Syaiful Sagala. 2010. Supervisi Pembelajaran dalam Profesi Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Ngalim Purwanto. 2009. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya
H.A. Syamsudin Makmun. 2005. Psikologi Kependidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya
Suharsimi Arikunto. 1997. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
Budiyono. 2007. Motede Statistik untuk Penelitian. Surakarta: Universitas Sebelas Maret
Sudjana. 2002. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito
Herman R. Soetisna. 2007. Pengukuran Motivasi. Bandung: Laboratorium PSK&E TI-ITB
Komarudin. 2004. Manajemen Pengawasan Kualitas Terpadu. Jakarta: Rajawali,
Gomes, Faustino Cardoso. 2002. Manajemen Sumberdaya Manusia. Yogyakarta: Andi offset.
Puslitjaknov, 2008. MetodePenelitian Pengembangan. Jakarta: Depdiknas
Sinungan, Muchdarsyah. 2003. Motivasi, Apa dan Bagaimana. Jakarta: Bumi Aksara.
H.A.R Tilaar. 1999. ParadigmaBaru Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta
Bogdan, R..C. & Biklen, S.K. 1982. Qualitative Research for Education. Boston:Allyn & Bacon Inc.
Danim, Sudarwan. 2002. Inovasi Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.
Danim, Sudarwan. 2010. Kepemimpinan Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Depdiknas. 2001. Kurikulum Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas.
Dediknas. 2003. Undang-Undang R I Nomor 20 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Citra Umbara.
Supriadi, D. 2000. Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. Yogyakarta: Adicita.
Depdiknas. 2004. Pola Pembinaan Sistem Pendidikan Tenaga Kependidikan PGSD. Jakarta: Depdiknas.
Depdiknas. 2005. Undang-Undang RI Nomor 14 Tentang Guru Dan Dosen. Jakarta: Depdiknas.
Depdiknas. 2006. Standar Kompetensi Guru Kelas SD/MI Lulusan S 1 PGSD. Jakarta: Depdiknas.
Depdiknas.2008. StanPembangunan Pendidkan Nasional. Jakarta: Depdiknas.
Goetz, J.P. & Comte, LMD. 1984. Ethnography and Qualitative Design And Educational Research. New York: Academy Press Inc.
Hasan, S.H. 2004. Kurikulum dan Tujuan Pendidikan. Bandung: Pasca Sarjana UPI.
Hatten, K.J. & Rosenthal, S.R. 2001. Reaching
 for the Knowledge Edge. New York: Amrican Management Association.
Manisera, Marica., Dusseldrp, E., and Kooij, A.J. Van. 2005. Component Structure of Job Satisfaction Based on Herzberg’s Theory. Italy: Leiden University
Slade, L.A. and Rush, M. 1991.Achievement Motivation and Dynamics of Task Difficulty Choices. Journal of Personality and Society Psychology Vol 6 No 1, 165-172.

Sukmadinata, Nana Saodih,2009. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya

Williams, J.K. 2003. Maslow’s Hierarchy of Needs and Alderfer’s ERG Theory. London: SLC

READ MORE - Meningkatkan Motivasi Kerja Melalui Supervisi Akademik pada Guru
Monday, 3 August 2015

Akidah Akhlak Melalui Penerapan Model Pembelajaran Mastery Learning

Meningkatkan Prestasi Belajar Akidah Akhlak Melalui Penerapan Model Pembelajaran Mastery Learning (Belajar Tuntas) di Kelas VII-A MTs Al-Mardliyah Pameungpeuk Garut

ABSTRAK

Untuk mendapatkan File dari BAB1-5 hub 0856 42 444 991

Berdasarkan latar belakang bahwa peserta didik dipandang dalam kegiatan pembelajaran sebagai individu dan sosial. Setiap peserta didik memiliki perbedaan minat (interest), kemampuan (ability), kesenangan (preference), pengalaman (experience), dan cara belajar (learning style). Sehingga guru disamping memikirkan bahan pelajaran, hendaklah ia memikirkan cara agar mudah dimengerti dan dapat meningkatkan prestasi. Salah satu metodenya adalah dengan Mastery Learning (belajar tuntas).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi guru menggunakan Mastery Learning dalam pembelajaran akidah akhlak di MTs. Al-Mardliyah Pameungpeuk Garut dan untuk mengetahui daya serap peserta didik dalam pembelajaran akidah akhlak dengan Mastery Learning.
Berpijak dari masalah yang ada, pembelajaran Mastery Learning dalam mata pelajaran akidah Akhlak harus disesuaikan dengan karakteristik penguasaan materi yang dipelajari. Menurut hasil pengamatan dan observasi di lapangan khususnya di MTs. Al-Mardliyah Pameungpeuk  Garut, fenomena yang terjadi dewasa ini cenderung adanya penurunan prestasi belajar siswa. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, baik intern maupun ekstern. Salah satu yang menjadi faktor menurunnya siswa adalah metode yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar, sehingga hal ini membuat peneliti untuk mencoba menggunakan Mastery Learning untuk meningkatkan prestasi siswa.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang menggunakan alat pengumpul datanya dengan observasi, wawancara dan tes. Pendekatan analisis yang digunakan adalah pendekatan kualitatif.
Berdasarkan hasil pengolahan data, ditemukan hasil prosentasi dari para siklus adalah sebagai berikut:
-          Pra-Siklus, nilai rata-rata hasil prestasi belajar siswa adalah 62,71%
-          Siklus I, dihasilkan nilai rata-ratanya adalah 75,57%
-          Siklus II, dihasilkan nilai rata-ratanya adalah 80%

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah
Pembangunan Nasional di bidang pendidikan merupakan bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Hal ini dalam rangka mewujudkan masyarakat yang damai, demokratis, berkeadilan, berdaya saing, maju dan sejahtera, yang didukung oleh manusia Indonesia yang sehat, mandiri, beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, cinta tanah air, berkesadaran hukum dan lingkungan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki etos kerja yang tinggi dan disiplin dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Usaha menuju terwujudnya visi pendidikan nasional tersebut diperlukan peningkatan dan penyempurnaan penyelenggaraan pendidikan nasional, yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian. Dalam rangka ini pula diberlakukan Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Departemen Agama, 2005: 3).
Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, peran serta madrasah sangat diperlukan, karena di samping mengajarkan sejumlah bidang ilmu pengetahuan umum, juga sebagai ciri khasnya, diajarkan bidang agama Islam yang mendalam untuk menggali ilmu pengetahuan agama.
Seperti dijelaskan oleh Ali (2004: 1), inti proses pendidikan secara formal adalah mengajar, sedangkan inti proses pengajaran adalah peserta didik belajar. Oleh karena itu mengajar tidak dapat dipisahkan dari belajar, sehingga peristilahan kependidikan kita dikenal ungkapan Proses Belajar Mengajar (PBM) atau proses pembelajaran.
Menurut Sudjana (2005: 1) ada tiga veriabel utama yang saling berkaitan dengan strategi pembelajaran di sekolah. Ketiga variabel tersebut adalah kurikulum, guru, dan pembelajaran atau proses belajar mengajar.
Proses pembelajaran dapat dirancang tidak hanya berinteraksi dengan guru sebagai satu-satunya sumber belajar yang mungkin dapat dipakai untuk mencapai hasil pembelajaran, melainkan mencakup interaksi dengan semua sumber belajar yang mungkin dapat dipakai untuk mencapai hasil yang bermakna.
Peserta  didik dipandang dalam kegiatan pembelajaran  sebagai individu dan sosial. Setiap peserta didik memilki perbedaan minat (interest), kemampuan (ability), kesenangan (preference), pengalaman (experience), dan cara belajar (learning style). Peserta  didik  tertentu mungkin lebih mudah belajar dengan cara mendengar dan membaca, sedangkan peserta didik lain dengan cara melihat, dan peserta didik yang lainnya lagi belajar dengan cara melakukan (learning by doing). Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran, organisasi kelas, materi pelajaran, waktu belajar, alat belajar, dan cara penilaian perlu disesuaikan dengan karakteristik peserta didik (Sutrisno, 2005: 63).
Muhammad (1981: 8) mengatakan bahwa setelah guru memikirkan bahan pelajaran, hendaklah ia memikirkan cara menyampaikan bahan ke dalam pikiran peserta didik, dengan memperhatikan tujuan pembelajaran, dan keadaan peserta didik. Guru harus memikirkan metode yang paling baik untuk menyusun materi pembelajaran, dan bahan pembelajaran sebagai mata rantai yang sambung-menyambung.
Selain itu, dalam kegiatan pembelajaran guru sebaiknya memperhatikan perbedaan individual peserta didik, yaitu pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis. Kerangka pemikiran demikian dimaksudkan agar guru mudah dalam melakukan pendekatan kepada setiap peserta didik secara individual. Peserta didik sebagai individu memliki perbedaan sebagaimana disebutkan di atas. Pemahaman ketiga aspek tersebut akan merapatkan hubungan guru dengan peserta didik, sehingga memudahkan melakukan pendekatan mengajar.
Penguasaan kemampuan pelajaran Aqidah Akhlak diperlukan strategi yang tepat dan cocok. Salah satu strategi yang diterapkan di Madrasah Tsanawaiyah Al Mardliyah khususnya dalam pelajaran Aqidah Akhlak adalah mastery learning. Strategi ini meliputi dua kegiatan, yaitu program pengayaan dan perbaikan (Arikunto, 1988: 31).
Proses pembelajaran  dengan menggunakan prinsip Belajar tuntas (mastery learning) menguntungkan bagi peserta didik, karena dengan kegiatan pembelajaran ini setiap siswa dapat dikembangkan semaksimal mungkin. Pandangan yang menyatakan semua peserta didik dapat belajar dengan hasil  yang baik juga akan mempunyai imbas pada pandangan  bahwa guru dapat mengajar dengan baik.
Belajar tuntas pada dasarnya akan menjadikan peserta didik memiliki kemampuan dan mengembangkan bakat yang dimilikinya, mengecilkan perbedaan intelegensi tinggi dengan intelegensi normal. Belajar tuntas (mastery learning) menjadikan peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran, sehingga di dalam kelas tidak terjadi intelegensi tinggi akan mencapai semua tujuan pembelajaran sedang anak didik yang intelegensi normal mencapai sebagian tujuan pembelajaran atau tidak mencapai sama sekali tujuan pembelajaran (Yamin 2007: 121).
Belajar tuntas dilandasi oleh dua asumsi. Pertama, mengatakan bahwa adanya korelasi antara tingkat keberhasilan dengan kemampuan potensial (bakat). Hal ini dilandasi teori tentang bakat yang dikemukakan oleh Carrol (1953) yang menyatakan bahwa apabila peserta didik didistribusikan secara normal dengan memperhatikan kemampuannya secara potensial untuk beberapa bidang pengajaran, kemudian mereka diberi pengajaran yang sama dan hasil belajarnya diukur, ternyata akan menunjukkan distribusi normal. Hal ini berarti bahwa peserta didik yang berbakat cenderung untuk memperoleh nilai tinggi. Kedua, apabila pelajaran dilaksanakan secara sistematis, maka semua peserta didik akan mampu  menguasai bahan yang disajikan kepadanya, (Mulyasa, 2004: 53-54).
Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan penulis di lapangan, diperoleh gambaran bahwa penerapan strategi mastery learning dalam pelaksanaan pembelajaran Aqidah Akhlak di MTs Al Mardliyah sudah sejak lama dilakukan oleh guru-guru pengampu mata pelajaran Aqidah Akhlak. Hal ini dapat dilihat bahwa di satu sisi latar belakang pendidikan peserta didik beraneka ragam, sebagian ada yang berasal dari Sekolah Dasar plus Madrasah Diniyah, serta sebagian lagi berasal dari Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah, menyebabkan peserta didik Madrasah Tsanawaiyah Al Mardliyah masih memiliki perbedaan-perbedaan individual dalam memahami pembelajaran Aqidah Akhlak dengan menggunakan strategi mastery learning. Sementara itu, guru yang mengampu bidang Aqidah Akhlak bukan berasal dari jurusan Aqidah Akhlak, tetapi didukung oleh faktor sarana dan prasarana yang memadai, proses pembelajaran berlangsung secara continuitas dan sesuai dengan perencanaan pembelajaran.
Sehubungan dengan latar belakang masalah di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Meningkatkan Aktivitas Prestasi Belajar Akidah Akhlak Melalui Penerapan Model Pembelajaran Mastery Learning (Belajar Tuntas) (Penelitian Tindakan Kelas di Kelas VII-A MTs Al Mardliyah Garut).”
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka yang menjadi pokok masalah  dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Bagaimana strategi guru menggunakan mastery learning dalam pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Tsanawaiyah Al Mardliyah?
2.      Bagaimana daya serap peserta didik dalam pembelajaran Aqidah Akhlak dengan mastery lerning di Madrasah Tsanawaiyah Al Mardliyah?
C.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan:
a.      Mendeskripsikan strategi guru dalam mastery learning di bidang pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Tsanawaiyah Al Mardliyah.
b.      Mendeskripsikan daya serap peserta didik dalam pembelajaran Aqidah Akhlak dengan mastery learning di Madrasah Tsanawaiyah Al Mardliyah.
2.      Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
a.      Bagi Siswa
Melalui hasil penelitian ini diharapkan siswa akan lebih bersemangat dalam mengikuti proses pembelajaran Aqidah Akhlak. Di samping itu siswa akan mendapatkan pembelajaran yang variatif serta berperan aktif, sehingga dimungkinkan dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
b.      Bagi Guru
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengalaman langsung bagi guru-guru yang terlibat untuk memperoleh pengalaman baru dalam menerapkan metode pembelajaran yang menarik perhatian siswa, tidak monoton dan inovatif. Sehingga pada perkembangan selanjutnya guru akan lebih kreatif dan berusaha menghilangkan kejenuhan siswa melalui penerapan model pembelajaran tersebut.
c.      Bagi sekolah
Hasil penelitian ini dapat memberikan pengalaman pada guru-guru lain sehingga memperoleh pengalaman baru untuk menerapkan pendekatan inovasi dalam pembelajaran.
READ MORE - Akidah Akhlak Melalui Penerapan Model Pembelajaran Mastery Learning

Meningkatkan Kemampuan Guru melalui Program Pembinaan Profesional Guru

MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENGEFEKTIFKAN PEMBELAJARAN MELALUI PROGRAM PEMBINAAN PROFSIONAL GURU DAN SUPERVISI KELAS DI SMA NEGERI 101 JAKARTA TAHUN PELAJARAN 2007/2008

BAB I
PENDAHULUAN

Untuk Mendapatkan File dari BAB1-5 hub 0856 42 444 991

A.    Latar Belakang Masalah
Perkembangan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara merupakan hal-hal yang harus segera direspon di dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan. Beberapa perubahan yang terjadi di Indonesia dan berpengaruh terhadap penyelenggaraan pendidikan. Pertama, pelaksanaan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang Pembagian Kewenangan antara Pusat dan Daerah telah membawa perubahan pada system pengelolaan pendidikan nasional, dari sentralistik kepada desentralistik. Kedua, penetapan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional serta beberapa peraturan perundang-undangan lainnya telah menjadi arah baru  bagi pengelolaan pendidikan nasional sebagai suatu sistem. ketiga, perubahan global dalam bernagai sektor kehidupan yang terjadi demikian cepat, merupakan tantangan dan peluang nasional bagi upaya peningkatan mutu pendidikan. Keempat, ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja perlu segera dikaji secara serius, konsisten, dan berkelanjutan. Dengan demikian diperlukan adanya paradigm baru dalam pengelolaan pendidikan yang mampu mempersiapkan generasi muda yang memiliki kompetensi multi dimensial. Salah satu upaya strategis yang dilakukan pemerintah dimasa mendatang adalah pengembangan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Pendidikan merupakan kebutuhan dan hak asasi setiap manusia untuk mempersiapkan kehidupannya, baik sebagai makhluk pribadi maupun social. Kebutuhan dasr manusia dalam peran pribadinya berkaitan dengan kebutuhan mempertahankan hidup, dan memerankan diri dalam system sosialnya.
Pada tingkat persekolahan, pelaksanaan pendidikan menuntut kemampuan guru dapat mengelola proses pembelajarannya secara efektif. Tingkat produktivitas sekolah dalam memberikan pelayanan secara efisien kepada pengguna (peserta didik/masyarakat) akan sangat tergantung pada kualitas guru-gurunya yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran dan pada keefektifan mereka dalam melaksanakan tanggung jaeab individual dan kelompok. Guru harus mampu berperan sebagai desainer (perencana). Implementor (pelaksana), dan evaluator (penilai) kegiatan pembelajaran. Guru merupakan factor yang paling dominan, karena ditangan gurulah keberhasilan pembelajaran dapat dicapai. Kualitas mengajar guru secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran pada umumnya.
Peran strategis guru tersebut menuntut pembinaan dan pengembangan yang terus-menerus dalam menghadapi perkembangan teknologi dan informasi yang mengglobal dewasa ini. Upaya meningkatkan kemampuan professional guru memerlukan pembinaan yang terus-menerus melalui supervise atau pengawasan. Pelaksanan pengawasan yang ditekankan pada proses pembelajaran lebih dikenal dengan istilah supervise pengajaran (educational supervision atau instructional supervision).
Mengajar merupakan suatu pekerjaan yang kompleks, terutama bagi seorang guru muda yang belum banyak pengalaman. Pada saat guru sedang mengajar, pusat perhatiannya harus tertuju pada dua hal, yakni: (1) siswa yang harus aktif berpartisipasi dalam proses belajar mengajar, dan (2) guru itusendiri yang sedang mengajar dengan menerapkan strategi mengajar yang dipilihnya.
Pada umumnya guru hanya memusatkan perhatian kepada siswanya saja, sehingga ia mengabaikan unjuk kerja mengajarnya sendiri yang dimungkinkan menjadi penyebab terjadinya kegagalan dalam proses belajar mengajar di kelas. Sebaliknya, jika guru terlalu memusatkan perhatian pada unjuk kerja mengajarnya sendiri dan mengabaikan proses belajar siswanya, maka dimungkinkan guru mengajar dengan baik, tetapi siswanya tidak belajar dengan aktif. Jadi perhatian guru hars simultan tertuju pada dirinya sendiri dan siswanya dalam proses interaksi belajar dan mengajar yang efektif agar dapat mencapai tujuan pembelajaran seperti yang telah direncanakan. Disamping hal tersebut di atas, perkembangan IPTEK dewasa ini juga menuntut guru selalu meningkatkan kemampuannya untuk menguasai IPTEK, terutama yang berkaitan dengan dunia pendidikan dan pengajaran. Sehingga kemampuan profesionalnya tidak jauh tertinggal, dan unjuk kerja mengajarnya selalu up to dete.
Masih banyak lagi faktor-faktor lain yang menyebabkan terbatasnya kemampuan guru dalam melaksanakan fungsi dan tugas pokoknya,  padahal guru merupakan ujung tombak keberhasilan penididikan dan pengajaran di sekolah. Jadi guru memerlukan bantuan supervise pengajaran, terutama dari kepala sekolah, pengawas sekolah, maupun supervise pengajaran, terutama dari kepala sekolah, pengawas sekolah, maupun dari guru yang lebih senior (baik pengalaman maupun kemampuannya). Supervise pengajaran perlu diarahkan pada upaya-upaya yang sifatnya memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk berkembang secara professional. Sehingga mereka lebih mampu melaksanakan tugas pokoknya, yaitu memperbaiki dan meningkatkan proses dan hasil pembelajaran. Supervise pengajaran merupakan kegiatan-kegiatan yang “menciptakan” kondisi yang layak bagi pertumbuhan professional guru-guru secara terus-menerus. Kegiatan supervise memungkinkan guru-guru memperoleh arah diri dan belajar memecahkan sendiri masalah-masalah yang dihadapi dalam pembelajaran dengan imajinatif, penuh inisiatif dan kreativitas, bukan konformitas” (Djam’an Satori, 1989).
Beberapa alasan yang mendasari pentingnya supervisi-pengajaran. Pertama, supervisi pengajaran bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Kedua, supervisi pengajaran dapat memadukan perbaikan pengajaran secara relative menjadi lebih sempurna secara bertahap. Ketiga, supervisi pengajaran relevan dengan nuansa kurikulum yang berorientasi pada pencapaian hasil belajar secara tuntas, sehingga supervisi pengajaran memberikan dukungan langsung pada guru di dalam mengupayakan tercapainya tingkat kompetensi tertentu pada siswa. Keempat, supervisi pengajaran merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan para guru.
Dalam konsep supervisi pengajaran tercakup dau konsep yang berbeda, walaupun pada pelaksanaanya saling terkait, yaitu supervisi kelas dan supervisi klinis. Supervisi kelas dimaksudkan sebagai upaya untuk mengidentifikasi permaslahan pembelajaran yang terjadi dio dalam kelas dan menyusun alternative pemecahannya. Supervisi klinis merupaka layanan professional dari kepala sekolah dan pengawas, karena adanya masalah yang belum terselesaikan dalam pelaksanaan supervisi kelas. Sergiovanni dan Starrat (1983) menyebutkan bahwa supervisi kelas bersifat top-down, artinya perbaikan pengajaran ditentukan oleh pengawas/kepala sekolah, sedangkan supervisi klinis bersifat bottom-down, yaitu kebutuhan program ditentukan oleh persoalan-persoalan otentik yang dialami para guru.
Ketika seorang guru menjelaskan pelajaran di depan kelas, maka pada saat itu terjadi kegiatan mengajar, tetapi dalam kegiatan itu tak ada jaminan telah terjadi kegiatan belajar pada setiap siswa yang diajar. Kegiatan belajar mengajar (KBM) dikatakan efektif hanya apabila dapat mengakibatkan atau menghasilkan kegiatan belajar pada diri siswa.
Arista  (dalam Depdiknas,1999:4) mengemukakan bahwa belajar merupakan usaha yang dilakukan seseorang melalui interaksi dengan lingkungannya untuk mengubah prilakunya. Dengan demikian, hasil dari kegiatan belajar adalah berupa perubahan perilaku yang relatif permanen pada diri orang yang belajar.
Ada tiga komponen utama yang paling berkaitan dan memiliki kedudukan strategis dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Ketiga komponen tersebut adalah kurikulum, guru dan pembelajaran, ketiga komponen dimaksud, guru menduduki posisi sentral sebab peranannya sangat menentukan. Seorang guru diharapkan mampu menjabarkan nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum melalui pembelajaran untuk siswa secara optimal.
Djazuli (dan Depdikbud,1993a:2) mengemukakan bahwa seorang guru dituntut mewakili wawasan yang berhubungan dengan mata pelajaran yang diajarkannya dan pengajaran kepada siswa. Kedua wawasan tersebut sesungguhnya merupakan suatu kesatuan wawasan professional guru.
Guru harus selalu meningkatkan kemampuan profesionalnya, pengetahuan, sikap dan keterampilannya secara terus-menerus sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk paradigma baru pendidikan yang menerapkan Manajemen Barbasis Sekolah (MBS) dan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Peningkatan pengetahuan dan keterampilan guru diarahkan untuk peningkatan mutu pembelajaran dan diharapkan berdampak pada hasil belajar siswa.
Tinggi rendahnya mutu pembelajaran dapat disebabkan oleh berbagai factor termasuk rendahnya wawsan profesionalisme guru. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa guru cenderung kurang kreatif dan inovatif dalam proses pembelajaran, terbukti dari pengakuan guru-guru yang menjadi subjek dalam penelitian dengan menjadikan ceramah sebagai pilihan utama strategi mengajarnya.
Strategi yang monoton kurang mampu memotivasi siswa dalam belajar serta kurang mampu menggali dan mengoptimalkan potensi siswa. Rahman (1999:4) mengemukakan bahwa rendahnya kualitas proses pembelajaran kerena penggunaan metode mengajar yang monoton dan tidak bervariasi. Berdasarkan hasil diskusi terbatas dengan para guru di SMA N 101 Jakarta, diketahui bahwa rendahnya wawasan profesionalisme guru dimungkinkan karena beberapa alasan antara lain: (1) rendahnya kesadaran guru untuk memperbaharui pengetahuannya meskipun telah lama diangkat menjadi guru, (2) kesempatan bagi guru untuk mengikuti pelatihan-pelatihan profesional sangat terbatas, baik dari segi jumlah maupun dari intensitasnya, (3) pertemuan-pertemuan guru sejenis kurang aktif, (4) supervisi pendidikan yang bertujuan memperbaiki proses pembelajaran cenderung menitikberatkan pada aspek administrasi, dan (5) pemberian kredit jabatan fungsional guru yang ditunjukan untuk memacu kinerja guru pada prakteknya hanya bersifat formalitas.
Berkaitan dengan keadaan di atas, Glickman (dalam  Depdikbud,1999:19) membagi perilaku guru berdasarkan pada dua hal yaitu komitmen dan kemampuan guru memecahkan masalah pembelajaran. Maka untuk mengatasi rendahnya wawasan professional guru disusun upaya-upaya yang terencana, sistematis dan berkesinambungan dalam program pembinaan profesionalisme guru yang diarahkan untuk meningkatkan komitmen dan kemampuan guru dalam memecahkan masalah pembelajaran, sehingga diharapkan pembelajaran dapat lebih efektif dengan mengacu pada pencapaian hasil belajar oleh siswa.
Program tersebut merupakan salah satu program pengembangan sekolah sehingga manajemen sekolah dikembangkan pada pemberdayaan potensi yang dimiliki sesuai kondisi sekolah termasuk penyediaan sarana dan prasarana pengembangan diri guru.

B.               Identifikasi Masalah
Pelaksanaan supervisi pengajaran yang selama ini berlangsung dilaksanakan oleh Kepala Sekolah dan pengawas sekolah. Kepala sekolah dan pengawas sekolah mempunyai kewajiban untuk melaksanakan supervisi untuk mengukur tingkat kesiapan atau profesionalisme guru dalam proses belajar mengajar baik yang menyangkut administratif maupun edukatif dan didukung oleh instrument yang memberi arah dalam mengumpulkan data sebagai bahan analisis.
Penekanan pada aspek administratif dan edukatif dalam pelaksanaan supervisi ternyata berdampak pada kurangnya perhatian kepala sekolah maupun pengawas sekolah terhadap tingkat komitmen guru melalui supervisi secara sistematis dan terprogram, padahal komitmen guru sangant mempengaruhi efektifitas dan kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Untuk itu diperlukan adanya supervisi untuk meningkatkan kometmen guru-guru dengan mengoptimalkan pendekatan ilmiah dan pendekatan kolaboratif. Dengan pendekatan ilmiah supervisor dapat menggunakan fakta-fakta empiris dalam melakukan pembinaan, sedangkan dengan pendekatan kolaboratif tercipta hubungan konsultatif, kolegial dan demokratis antar supervisor dengan guru yang disupervisi (supervisee).
Perpaduan dari pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan komitmen guru-guru dalam melaksanakan tugas. Namun untuk membuktikan kebenarannya, tidak lanjut penelitian perlu dilaksanakan.

C.        Rumusan Masalah
Berdasarka latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian adalah sebagai berikut.
1.  Sejauh mana penerapan pendekatan kolaboratif dalam supervisi kelas dapat meningkatkan komitmen guru-guru SMA Negari 101 Jakarta.
2.    Adakah kelemahan-kelemahan dalam pelaksanaan supervisi kelas yang dikombinasikan dengan pendekatan kolaboratif?
3. Apakah dengan program pembinaan professional, kemampuan guru dalam mengefektifkan pembelajaran dapat ditingkatkan?
4.   Kendala apa saja yang ditemukan dalam penerapan pembinaan professional guru di SMA 101 Jakarta.

D.               Pemecahan Masalah
pengawas sekolah dan kepala sekolah sebagai peneliti bersama guru-guru sebagai subjek penelitian secara bersama-sama mengidentifikasi masalah-masalah pembelajaran dan komponen guru. Selanjutnya diidentifikasi alternative langkah-langkah pemecahan masalahnya. Dari alternative langkah-langkah pemecahan masalah itu ditentukan beberapa langkah sebagai solusi pemecahan masalah dan dilaksanakan secara terprogram dalam upaya peningkatan kemampuan guru untuk mengefektifkan pembelajaran.
Langkah-langkah tersebut disusun dalam program pembinaan professional guru dan dilaksanakan dengan mengefektifkan sarana pengembangan diri guru, yaitu: (1) mengadakan pelatihan guru internal sekolah, dan melibatkan guru dalam program-program pelatihan di tingkat yang lebih luas, (2) mengaktifkan musyawarah guru sejenis dengan menjalin kerjasama dengan sekolah lain yang segugus untuk saling bertukar pengalaman dalam mengefektifkan pembelajaran maupun mengatasi masalah-masalah pembelajaran di kelas, (3) melaksanakan supervisi pendidikan secara intensif dengan menekankan pada pemberian bantuan untuk perbaikan pembelajaran, dan (4) memberi penilaian melalui angka kredit jabatan fungsional guru secara objektif untuk meningkatkan kinerja guru.

E.  Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.   Tujuan Penelitian
a)   Meningkatkan komitmen guru agar dapat mencurahkan waktu dan tenaga untuk mengembangkan sikap profesionalismenya.
b) Meningkatkan kemampuan guru dalam memecahkan masalah-masalamanfaath dalam pembelajaran untuk mengefektifkan pembelajaran.
c)   Memotivasi guru dalam meningkatkan kinerjanya.
2.   Manfaat hasil Penelitian
a)  Sekolah, mengefektifkan pengelolaan pembelajaran yang berdampak pada peningkatan mutu sekolah.
b) Guru, meningkatkan wawasan professional guru sehingga termotivasi untuk meningkatkan kinerjanya.
c) Siswa, mengmbangkan potensi yang dimiliki oleh siswa secara optimal sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya.


DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud,1999. Sistem Pengembangan Profesi Tenaga Kependidikan. Jakarta: Depdikbud.
--------------, 1993a. Pendidikan Tenaga Kependidikan Berdasar Kompetensi, Jakarta
---------------, 1993b. Sistem Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Pembinaan Kelembagaan, Jakarta.
Depdiknas.2003. Undang-Undang republic Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta.
---------------. 2005. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.
Pidarta, Made. 1992. Landasan Kependidikan. Jakarta: Rineke Cipta.
Purwanto, Ngalim, 1998. Administrasi dan supervisi Pendidikan. Bandung: Rosdakarya.
Rusyan, A.Tabrani & H.Es.Hamijaya. 1992. Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Jakarta: Nine Karya Jaya.
Sahertian, Piet A. 1992. Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan. Jakarta: PT.Rineka Cipta.
Sardiman A.M.1994. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada.
Soekamto, Toeti & Udin Saripudin Winataputra, 1997. Teori Belajar dan Model-model Pembelajaran. Jakarta: Dirjen Dikti, Depdikbud.
Soetopo, Hendyat. 1988. Kepemimpinan dalam pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
READ MORE - Meningkatkan Kemampuan Guru melalui Program Pembinaan Profesional Guru

Pendekatan Diskusi Interaktif Dalam Peningkatan Pelayanan Dasar BK



Pendekatan Diskusi Interaktif Dalam Peningkatan Pelayanan Dasar Bimbingan dan Konseling Pada SMA dan SMK Binaan di Kota Padang


BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

Konselor merupakan tenaga kependidikan, seyogianya menjadi bagian yang integral dari seluruh upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Dalam kerangka reformasi di bidang otonomi pendidikan yang telah digelindingkan yaitu manajemen berbasis sekolah, sudah saatnya unjuk kerja konselor sekolah difokuskan pada standar kompetensi dengan bekerja secara profesional.

Dalam kontek pengembangan profesi pengawas sekolah, memenuhi tuntutan Permen No. 12 Tahun 2007 Tentang Standar Pengawas Sekolah / Madrasah diadakan Penelitian Tindakan Sekolah ( PTS ) mengemukakan urgensi dan efektivitas pelayanan konseling yang dilaksanakan oleh konselor pada SMA dan SMK binaan.

Unjuk kerja konselor dalam melaksanakan Pelayanan Konseling mengaju pada empat bidang bimbingan: ( bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karir), dan jenis-jenis pelayanan konseling ( orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok dan konseling kelompok, konsutasi dan mediasi ), serta kegiatan pendukung bimbingan ( aplikasi instrumentasi, himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah dan alih tangan kasus ) yang dikenal dengan “BK pola 17 plus”. Indikator kualifikasi konselor dapat diukur melaui pengetahuan, ketrampilan dan sikap seperti tingkat pendidikan ( S 1 ). Kesadaran diri ( Self awareness ) dan etos kerja. Konselor profesial bekerja secara ikhlas serta menghasilkan produktifitas yang lebih besar.

Memperhatikan kenyataan konselor SMA dan SMK binaan saat ini, data menunjukan bahwa konselor sekolah banyak yang belum memenuhi standar kualifakasi akademik : sarjana Pendidikan ( S 1 ), dan memiliki sartifikat guru dalam jabatan. Bagi konselor yang belum memenuhi standar kualifakasi itu, diduga mungkin dan atau mampu melaksanakan layanan konseling bimbingan kelompok tugas “ BK Pola 17 Plus “ secara administratif dan bermanfaat.

Laporan hasil supervisi Pengawas Sekolah, disampaikan dalam Rapat Pengawas dengan Kepala Dinas beserta jajaranya pada tanggal 27 juni 2008 . Melahirkan surat edaran Dinas Pendidikan Kota Padang No. 2563 / 420. DP / KPMP / 2008 tentang Peningkatan Mutu Pembelajaran, secara ekplesit Kepala Dinas Pendidikan menyatakan bahwa Guru harus membuat perangkat pembelajaran, setiap sekolah type C harus memiliki minimal 1 ( satu ) orang Konselor dengan tugas melaksanakan Pelayanan Dasar, Pelayanan Responsif, Pelayanan Perencanaan Indidual dan Pelayanan Dukungan Sistem.

Depdiknas (2008) pelayanan dasar merupakan upaya pemberian bantuan kepada seluruh peserta didik melalui pengalaman terstruktur secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis. Achmad JN (2006, hal. 17) pelayanan dasar bimbingan bertujuan membantu peserta didik mengembangkan prilaku efektif, akhlak mulia dan ketrampilan hidupnya yang mengacu pada tugas-tugas perkembangan, dilaksanakan dengan menggunakan strategi bimbingan klasikal dan dinamika kelompok.

Pelayanan responsif adalah usah pemberian pertolongan kepada peserta didik yang menghadapi masalah, memerlukan bantuan dengan segera, jika tidak ditolong maka menimbulkan hambatan dalam proses pencapaian kerkembangan. Achmd JN (2006, hal. 18) layanan responsif bertujuan membantu peserta didik memenuhi kebutuhn yang dirasakan sangat penting mendadak saat ini, pelayanan responsif lebih bersifat kuratif.

Pelayanan perencanaan individual Diknas (2008) merupakan bantunan kepada peserta didik agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaiatan dengan masa depan berdasarkan kekuatan dan kelemahan dirinya dengan memperhatikan peluang yang ada. Achmd JN (2006, hal. 18) layanan perencanaan individual bertujuan memberikan pertolongan dalam membuat dan mengimplementasikan rencana-rencana pendidikan, karier, sosial dan pribadi. Sementara dukungan sistem merupakan komponen pelayanan dan kegiatan managemen yang memberi dukungan kepada konselor dalam memberdayakan tiga pelayanan tersebut diatas.

Dari empat pelayanan yang dikemukakan di atas, berdasarkan hasil monitor, observasi, wawancara dan studi dokumenter menunjukan bahwa konselor mengalami kelemahan dalam merencanakan satuan pelayanan dasar bimbingan, khusus pada aspek pemahaman standar kompetensi kemandiria konseli, kompetensi dasar, perumasan tujuan/hasil bimbingan yang ingin dicapai, urain materi, dan pelaksanaan kegiatan serta penilaian hasil bimbingan. Kemampuan dalam merencanakan satuan layanan merupakan permasalahan yang esensial dan urgen. Apabila konselor tidak berbuat berdasarkan pada trilogi profesi yaitu visi dan misi, aksi serta didikasi, maka dampaknya adalah satuan layanan bimbingan akan mandul, ketercapaian kompetensi dasar kemandirian konseli semakin jauh dari kenyataan, atau tidak dapat diujudkan.

Berdasarkan uraian diatas dalam upaya mewujudkan konselor profesional yang mampu meujudkan standar kompeteni kemandirian kanseli, maka peneliti mencoba melakukan pembinaan dengan pendekatan diskusi interaktif dalam membuat satuan layanan dasar bimbingan dan konseling pada guru pembimbingan SMA dan SMK binaan di Kota Padang.

Guru dan konselor aktif mengikuti MGMP, MGP, MGPD, dan KKG secara rutin, baik yang diadakan oleh sekolah maupun tingkat kota. Surat edaran tersebut di atas itu secara inplisit juga mengandung makna bahwa: wawasan, kemampuan dan kinerja konselor perlu ditingkatkan untuk memenuhi standar profesi sebagaimana yang telah diamanatkan, (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (2) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, (3) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, (4) Permen Diknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Guru, (5) Permen Diknas Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Bagi Guru dalam Jabatan.

Untuk mewujudkan guru pembimbing memiliki kemampuan dalam membuat satuan layanan bimbingan dan konseling aplikatif dan komunikatif, maka peneliti mencoba melakukan pembinaan dalam membuat satuan layanan bimbingan dan konseling dengan pendekatan diskusi interaktif kepada guru pembimbingan SMA dan SMK binaan di Kota Padang.

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang masalah di atas diperoleh identifikasi sebagai berikut:

1. Ada guru pembimbing yang tidak membuat satuan layanan pada proses pembelajaran/pelayanan di sekolah

2. Ada satuan layanan konseling yang tidak aplikatif dan komunikatif.

3. Ada satuan layanan konseling yang kurang dimengerti oleh konseli

4. Ada aspek dalam satuan layanan yang tidak lengkap diisi oleh guru pembimbing.

5. Kurang semangat membuat satuan layanan konseling oleh guru pembimbing yang bertugas masuk kelas memberikan pelayanan dasar.

6. Pada umumnya guru pembimbing belum memanfaatkan satuan layanan konseling sebagai serana alat bantu pemberian pelayanan dasar

7. Ada pendapat yang berkembang bahwa penggunaan satuan layanan konseling dalam pemberian layanan tidak mempengaruhi hasil layanan.

8. Perlu ada bimbingan untuk meningkatkan kinerja guru pembimbing dalam pembuatan satuan layanan konseling (satlan).

C. Hipotesis Penelitian

Dengan pendekatan diskusi interaktif konselor akan meningkatkan pelaksanaan pelayanan dasar pada SMA dan SMK Negeri binaan di kota Padang.

D. Perumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

Apakah pendekatan diskusi interaktif konselor sekolah dapat meningkatkan pelaksanaan pelayanan dasar bimbingan dan konseling pada SMA dan SMK Negeri binaan di kota Padang


DAFTAR PUSTAKA


Abdurrahman. Dh. 1985. Diskusi Sebagai Alat Untuk Memecahkan Masalah, Jakarta, PT Karya Nusantara
Achmad Juntika Nurihsan, 2007. Bimbingan dan Konseling Dalam berbagai latar Kehidupan. Jakarta; PT Refika Aditama.
Arni Muhammad, 2008. Komunikasi Organisasi. Jakarta, Bumi Akasara
H.M. Taylor dan A.G. Mear, 1984. Rapat Konferensi Diskusi dan mendirikan Organisasi. Pentejemah Anas Siddik. Jakarta, Balai Aksara
Depdiknas, 2007. Peraturan Mendiknas RI Nomor 19 Tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta; Depdiknas.
Depdiknas, 2007. Peraturan Mendiknas RI Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta; Depdiknas.
Depdiknas, 2007. Panduan Penyususnan Perangkat Portofolio Sartifikasi Guru Dalam Jabatan. Jakarta; Depdiknas.
Depdiknas, 2008. Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta Dirjen PMPTK
Depdiknas, 2008. Bahan/Materi Bimbingan Teknis Kurikulum Tingkat Satuan Pendididikan SMA. Jakarta; Depdiknas.
Goldberg, Alvin.A, 1985. Komunikasi Kelompok Diskusi dan Penerapannya. Penterjemah Koesdarinisoemiati, Gary R Jusuf. Jakarta, UI Press.
Masril, 1993. Teras Kuliah Belajar Mengajar, Padang. Angkasa Raya.
Mungin Eddy Wibowo,.2003. Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling, Materi Pelatihan Guru Pembimbing. Jakarta, Dirjen Dikdasmen.
Prayitno, 1995. Buku Seri Bimbingan dan Konseling di Sekolah Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok (Dasar dan Profil). Jakarta Ghalia Indonesia
Prayitno, 2002. Hubungan Pendidikan . Departemen Pendidikan Nasional. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Direkrorat SLTP.
Prayitno, 2003. Wawasan dan Landasan BK Buku 1 Materi Pelatihan Kompetensi Guru Pembimbing, Jakarta, Dirjen Dikdasmen.

Untuk mendapatkan File dari BAB 1-5  hub 0856 42 444 991

READ MORE - Pendekatan Diskusi Interaktif Dalam Peningkatan Pelayanan Dasar BK