Wednesday, 30 March 2016

CONTOH PTK IPS MELALUI METODE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION


UPAYA MENINGKATKAN KREATIFITAS BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS) MELALUI METODE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) DENGAN MEDIA VARIATIF PADA SISWA KELAS V SEMESTER I SD NEGERI


Untuk Mendapatkan File BAB 1-BAB5 Hub 0856 42 444 991


ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kreatifitas belajar IPS menggunakan metode STAD (Student  Teams  Achievement Division)dengan media variatif. STAD merupakan metode tentang pengaturan kelas dan bukan metode pengajaran komprehensif untuk subjek tertentu. Guru dapat menggunakan pelajaran dan materi mereka sendiri. Tujuan utama dari kelompok belajar siswa adalah mempercepat pemahaman semua siswa. Pengaruh metode ini positif bagi siswa yang pintar, sedang maupun yang kurang pintar. Subjek penelitian adalah guru dan siswa kelas II SD N Baturejo 02 yang berjumlah 8 siswa. Sumber data dari penelitian ini adalah guru dan siswa. Bentuk penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui wawancara, observasi, dokumentasi, dan tes. Prosedur penelitian meliputi tahap identifikasi masalah, persiapan, penyusunan, rencana tindakan, implementasi tindakan, pengamatan, dan penyusunan rencana. Proses penelitian sendiri dilaksanakan dalam dua siklus, yang masing-masing terdiri dari empat tahap, yaitu: perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kreatifitas belajar siswa. Keberhasilan tersebut dapat terlihat dari adanya peningkatan persentase kriteria kkratifitas dari tahap pra siklus, siklus I hingga siklus II. Pada tahap pra siklus menunjukkan persentase yang rendah yaitu 37,5% saja yang sudah memenuhi kriteria. Pada siklus I ada peningkatan sebesar 25% menjadi 62,5% dari siswa yang memenuhi kriteria kreatifitas dan pada siklus akhir sebanyak 7 siswa atau 87,5% dari siswa sudah memenuhi kriteria kreatifitas. Hal ini membuktikan bahwa dengan penerapan metode STAD menggunakan media variatif dapat meningkatkan kreatifitas belajar siswa kelas V SD N Baturejo 02.


Kata kunci : Kreatifitas belajar IPS, metode STAD (Student  Teams  Achievement Division), media variatif.


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah pilar utama dalam pembentukan mental/karakter seorang siswa. Pendidikan yang baik akan membentuk mental atau karakter siswa yang lurus dan terarah. Pembinaan mental yang baik pada akhirnya akan bermuara pada kebaikan di kehidupan yang akan datang. Kehidupan di tengah-tengah masyarakat yang penuh dengan persoalan-persoalan yang rumit. Dengan berbekal pendidikan yang baik, maka siswa akan mempunyai mental/karakter yang kuat, dan mempunyai pengetahuan yang luas.
Kegiatan pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan yang setua dengan dengan usia manusia. Artinya sejak adanya manusia telah ada usaha-usaha pendidikan, dalam rangka memberi kemampuan kepada peserta didik untuk hidup secara mandiri.di dalam masyarakat. Selanjutnya fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pengetahuan yang luas bisa diperoleh dari bangku sekolah. Di sekolah anak- anak akan memperoleh ilmu pengetahuan yang diberikan oleh guru-guru mereka. Dalam pembelajaran guru dan peserta didik sering dihadapkan pada berbagai masalah, baik yang berkaitan dengan mata pelajaran maupun yang menyangkut hubungan sosial. Pemecahan masalah pembelajaran dapat dilakukan melalui berbagai cara, melalui diskusi kelas, tanya jawab antara guru dan peserta didik, penemuan dan inkuiri. Menumbuhkan kreatifitas dalam pembelajaran IPS bagi siswa SD bukanlah hal yang mudah. Pada dasarnya tujuan dari pendidikan IPS adalah untuk mendidik dan memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan lingkungannya, serta berbagai bekal bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Siswa dituntut untuk dapat mengembangkan kreatifitasnya melalui pembelajaran yang mereka lakukan. Kreatifitas dapat terlihat selama proses pembelajaran maupun dalam bentuk produk-produk hasil belajar. Kreatifitas adalah kemampuan untuk mencipta, daya cipta. Seorang bisa dikatakan kreatif bila menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, di mana penekanannya adalah kepada kuantitas, ketepatgunaan, dan keragaman jawaban.
Perilaku kreatif adalah hasil dari pemikiran kreatif.  Oleh  karena itu, hendaklah sistem pendidikan dapat merangsang pemikiran, sikap, dan perilaku kreatif-produktif, di samping pemikiran logis dan waktu yang dimiliki anak lebih banyak di rumah dibandingkan keberadaanya di sekolah merupakan sesuatu yang dapat dipergunakan oleh orang tua dalam pengembangan kreativitas. Untuk itu diperlukan perangsang kreativitas sejak kecil sampai dewasa melalui pendidikan formal dan non formal, baik di sekolah, dalam keluarga, maupun di dalam masyarakat.

 
Dengan kreatifitas orang dapat mewujudkan dirinya dan perwujudan diri merupakan kebutuhan pokok dalarn  hidup manusia (dapat menggunakan bakat dan kemampuan dalam hidup). Dengan  berpikir  kreatif, siswa memiliki kernampuan  untuk  melihat bermacam-macam   kemungkinan   penyelesaian terhadap   suatu masalah. Menyibukkan diri secara kreatif, dapat memberikan kepuasan kepada individu. Jadi dengan melatih kreatifitas anak maka tidak mustahil bahwa pembelajaran yang aktif akan tercapai.
Melihat pentingnya kreatifitas dalam diri seseorang, maka peneliti ingin mewujudkan suatu kondisi belajar yang mampu meningkatkan kreatifitas belajar siswa tertama pada mata pelajaran IPS yang cenderung berupa uraian-uraian panjang. Dengan begitu siswa dapat memperoleh makna dari setiap pembelajaran yang ia terima sehingga akan menjadi bekal bagi kehidupannya mendatang. Kondisi yang ada pada saat peneliti melakukan observasi awal justru bertolak belakang dengan tujuan pembelajaran IPS dan sama siswa sama sekali tidak menunjukkan adanya kreatifitas mereka dalam belajar. Dimana tidak terlihat adanya bekal dasar yang diperoleh siswa dalam mengembangkan diri sesuai bakat, minat, kemampuan, dan lingkungannya serta kurang kondusifnya suasana belajar pada saat itu. Suasana belajar masih bersifat klasikal dan monoton.
Berdasarkan daftar nilai ulangan harian IPS di kelas V SD Negeri Baturejo 02, menunjukkan nilai rata-rata siswa yang masih rendah. Selain itu, dari hasil observasi yang dilakukan di kelas V SD Negeri Baturejo 02, guru menjelaskan materi dengan didominasi oleh penggunaan metode ceramah, tanya jawab dan kegiatan lebih berpusat pada guru. Aktivitas siswa dapat dikatakan hanya

 
 mendengarkan penjelasan guru, mencatat hal-hal yang dianggap penting saja, dan menjawab pertanyaan jika ditunjuk, ada pula beberapa siswa yang mengantuk, bermalas-malasan dan melakukan kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran.
Berdasarkan pengertian dan tujuan dari pendidikan IPS serta pentinganya siswa memiliki kreatifitas dalam diri mereka, maka dibutuhkan suatu pola pembelajaran yang mampu menjadi jalan tercapainya tujuan tersebut. Kemampuan dan keterampilan guru dalam memilih dan menggunakan berbagai model, metode, dan strategi pembelajaran senantiasa terus ditingkatkan (Kosasih, 1994), agar pembelajaran Pendidikan IPS benar-benar mampu mengkondisikan upaya pembekalan kemampuan dan keterampilan dasar bagi siswa untuk menjadi manusia dan warga negara yang baik. Hal ini dikarenakan pengkondisian iklim belajar merupakan aspek penting bagi tercapainya tujuan pendidikan (Aziz Wahab, 1986) Guru yang kreatif senantiasa mencari pendekatan baru dalam memecahkanmasalah, tidak terpaku pada cara tertentu yang monoton, melainkan memilih variasi lain yang sesuai. Seorang guru tidaklah mudah menciptakan kondisi yang kondusif bagi semua siswa. Ada siswa yang proaktif, ada siswa yang tidak banyak bicara (pendiam) tetapi memiliki kemampuan akademik di atas temannya, dan terdapat pula siswa yang banyak bicara tetapi memiliki kemampuan rendah.
Bahkan, ada siswa dengan kemampuan akademik menengah ke bawah merasa tertekan dengan materi IPS yang penuh dengan teori dan konsep yang rumit bahkan sulit dipahami.

 
Hal tersebutlah yang dapat menyebabkan kurang bermaknanya pelajaran IPS ini, sehingga menyebabkan kreatifitas belajar siswa menjadi rendah dan pembelajaran cenderung pasif. Padahal dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pendekatan pengajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran seharusnya siswa diposisikan sebagai pusat perhatian atau dengan kata lain siswa yang aktif. Metode STAD atau divisi pencapaian kelompok siswa dianggap sebagai metode yang mampu memberi solusi bagi para guru dalam mengajar IPS di SD. Metode ini memacu siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang diajarkan guru.
Dalam metode STAD siswa dibagi menjadi kelompok yang beragam kemampuan, jenis kelamin dan sukunya. Guru memberi satu materi berbeda pada masing-masing kelompok. Dengan pemberian materi yang berbeda, siswa diarahkan untuk lebih kreatif dan berani menyampaikan apa yang dipelajarinya di kelompok yang lain.
Metode STAD dapat diterapkan di semua jenis materi, dengan begitu guru tidak harus menjadi penyampai utama materi, tetapi cukup mengarahkan dan menjadi motivator. Siswa juga akan merasa memiliki tanggung jawab untuk bisa menyampaikan materi dengan benar pada kelompok lain. Metode STAD juga dapat dikolaborasikan dengan berbagai bentuk media, guru dapat memberi materi dalam bentuk gambar kemudian siswa mendeskripsikan tentang materi yang sesuai gambar, brosur, selebaran atau makalah.
Penggunaan berbagai media ditujukan agar siswa tidak mengalami kebosanan, media juga dapat dibedakan untuk masing-masing kelompok. Guru

 
 pun dapat memberi kesempatan pada siswa untuk menyampaiakan materi dengan gaya mereka atau menggunakan media yang mereka sukai. Dari semua kegiatan di atas akan terlihat kreatifitas siswa dalam belajar IPS, sehingga hasil belajar siswa diharapkan dapat meningkat.
Dari latar belakang di atas maka peneliti mengadakan sebuah penelitian yang berjudul “Upaya Meningkatkan Kreatifitas Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Melalui Metode Student Teams Achievement Division (Stad) Dengan Media Variatif Pada Siswa Kelas V Semester I SD Negeri Baturejo 02 Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati Tahun pelajaran 2012/2013”.





Jika berkenan, mohon bantuannya untuk memberi vote Google + untuk halaman ini dengan cara mengklik tombol G+ di samping. Jika akun Google anda sedang login, hanya dengan sekali klik voting sudah selesai. Terima kasih atas bantuannya.
Judul: CONTOH PTK IPS MELALUI METODE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION; Ditulis oleh aan kurnia ariadi; Rating Blog: 5 dari 5